Petta,
Pasti Petta sedang memerhatikan ku
dari ketinggian di Stratosfera sana.
Petta senyum sinis
memandang manusia yang tak punya pendirian.
Berarah kemana saja mengikut siliran menghala.
Petta, leluhurku
Entah gimana mau merafazkan sembah
Dengan upaya apa mau memulakan titah
ianya sarat dengan kedurhakaan
Jika Petta masih ujud
Nescaya ku diburu hingga ke belantara
bibirku di potong senasib persis Arung Lompoko
pengikut setia To'Esang Datu Soppeng yang mencerca, mencela Petta.
Atau sama dengan nasib To' Dani, Datu di Ajattapareng, Sidenreng, Rappang, Alitta,
Sawitto dan Suppa.
Dia ipar @Nadim Petta
Bersama anaknya La Memang
kerna mau lagi menambah kerajaan dan kuasa.
serta mau menonjol pada Belanda, di belakang Petta.
Kepala mereka dipancung, diarak
kerna itulah balasan
pada mereka yang suka mengadu domba
Petta
Telah berkali-kali mereka memberi amaran
jangan cuba-cuba memprotes Petta
Jangan cuba-cuba membuat gambaran illusi
pada sinopsis yang belum tentu betul salahnya.
Jangan percaya seratus-peratus suguhan narator
mungkin ada sisihannya
cuba-cuba tunjuk berani, nahas mengundang celaka
itu semua ugutan mereka
Yang begitu taksub terhadap Petta.
Mana mungkin
zaman sebegini moderen
berteknologi tinggi
Mitos sudah tak dipercayai
masih ada perkara-perkara mistik, tahyul dan mungkar
Tak diterima akal
Bohong, dusta
Implikasi hanya menakut-nakutkan
cuba mengaburi kebenaran.
Petta
Pertama kali menjejakkan kaki dibumi leluhur ini
Bumi Gowa Makassar mula-mula menerima ku
Makanan pengalas perut
air pelepas dahaga
dari Gowa Makassar jua yang mula-mula masuk ke rongga
Gowa Makassar jua menobatkan ku `Daeng'
identitas sebagai anak warisan berbangsa
Walaupun baru dinobatkan
Siri', Pesse, Ware dan Pappaseng
telah tersedia ada dalam diri
Sebab keBugisanku kental mandiri.
Petta tentu maklum
Apa yang telah ditanamkan olih mereka
dikepala dan dibenakku...diasak dengan
kebencian, keburukan terhadap Petta.
Inggeris juga berjaya membasuh otakku
mengubah persepsi terhadap Petta.
Sebelum ini Petta tak pernah ku puja
Jauh dari untuk menobatkan Petta sebagai wira
Malah Petta adalah perosak bangsa dan Negara.
Petta bersekongkol dengan Belanda.
Lebur satu Celebes
Hancur semua Kerajaan kuno
yang diasas olih To'Manurung
Rupanya seratus peratus Speelman bergantung pada Petta.
Dalam strategi Speelman menundukkan Gowa.
Begitu penting sekali Petta pada Kompani Belanda,
berkerjasama dalam berusaha menghancurkan bangsa sendiri dan Negara.
,
Di Gowa Makassar begitu mesra - masih terasa terasing
Di Wajo merasa ada pertautan - tapi sepi
Di Soppeng, ada sesuatu disitu - agak menyeramkan, kerna terlalu nostalgia.
Di Bone....airmata mengalir, sayu, hiba
seperti ada kuasa magnet menarik...
rupanya dari sinilah salur-galur ku bermula,
tanah leluhurku, warisan nenek moyangku.
Kekuatan, kedamaian dan harga diri,
semuanya ada disini.
Petta....
Pada mulanya ku kurang yakin
kurang percaya pada kelebihan Petta.
Selepas mengalami beberapa rentetan
peristiwa aneh
diluar dari jangkaan akal - tapi itu kebesaran Illahi
Allah Yang Maha Kuasa .
Semua peristiwa bukan bersendiri
tapi bersaksi dengan beberapa biji mata
...Baru merasa akan kebenarannya
Baru datang keinsafan
Menyelideki Petta sedalam-dalamnya
Ternyata....ku sungguh bersalah
Sungguh berdosa
Menuduh serta mempercayai segala onar
yang ditujukan terhadap Petta.
Setelah diselideki
Sinopsisnya begini ya Petta.......
Sejak La Maddaremeng dalam pengasingan ke Gowa
Karaeng Sumanna menjadi pemangku raja.
Bone dibawah takluk Gowa
"Nari-poatana Bone Seppulo-pitudaung ittana
17 tahun Bone diperbudakkan
Wajo turut bersekongkol,
melupakan Perjanjian "Uluadaya Caleppa"
Karaeng Sumanna kurang menyerlah di hati Gowa
Karaeng Krung-Rung mengambil alih
Dia bermaharajalela
Kejam,sekejam-kejamnya
Dua ratus bangsawan Bone dibunuh.
sepuloh ribu rakyat Bone dihimpunkan
Tidak kira bangsawan atau orang biasa
semuanya diektradisi sebagai perbudakan dan abdi ke Gowa.
Guna menggali terusan
Memisahkan Benteng Panakkukang dengan daratan Wilayah Gowa.
Anak isteri digiring
Wanita hamil dibelah perutnya
Kerna tak bertahan perjalanan yang begitu menyiksa
Nenek Petta, Arung Tana Tennga Tua,
bangun memberontak,
tak tega melihat rakyat Bone Soppeng
diperlakukan membabi-buta.
Akhirnya dia dibunuh dengan kejam didepan mata.
Ayahanda Petta - La Pottobune
Bonda Petta - We Tenri Sui Datu Mario ri Wawo
di perlakukan seperti hamba.
Petta sendiri beserta teman-teman karib
Arung Bila La Palancoi Daeng Mabila
Arung Belo To Saddeng
Arung Appanang
turut menjadi tawanan mereka
Mereka melakukan sewenang-wenangnya
Bukan lagi memalukan
Penghinaan melebihi batasan
Bertopengkan Islam sebagai pegangan
Menang perang, berkuasa
membuat mereka lupa
mengamalkan perbuatan zalim
menjurus ke neraka.
Kasihan leluhurku, nenek moyangku...
entah berapa litter keringat asin
jatuh kebumi dalam sehari
kerna makan garam lebih dari nasi
beras hancur cuma layak dimakan babi.
Dibawah terik bahang mentari
mereka diperlakukan lebih dari binatang
Dipaksa bekerja
Jika kehabisan daya
mereka dipukul, ditendang sudah lumrah
Cuba melarikan diri
tertangkap dipukul hingga mati.
Sungguhpun nasib Petta tidak seburuk mereka
Petta disayangi
bebas keluar masuk di istana Gowa
Nasib Petta baik, hinggalah Petta dewasa.
Wajah Petta cantik, tampan gilaan semua
fisikal Petta gagah berbadan sasa
menggalahkan segala wira
lagi tangkas bermain senjata dan berolahraga.
Gimanapun hati Petta tetap tersiksa
terkenang ayahanda bonda yang sarat dengan penyiksaan.
Satu hari....La Pottobune dibunuh
kerana membela rakyat Bone yang disiksa
La Pottobune ditumbuk dengan lesung, lumat..
Sampai ke pengetahuan Petta..
Begitulah juga remuk, hancur luluh hati Petta tidak terkira.
Tanpa daya
untuk menunggu bilakah pembalasan
mengalahkan segala.
Walaupun Petta bebas di istana Gowa
tapi pada hakikatnya
kaki dirantai
tangan dipasung
kerongkong tercekik
jantung tersumbat
hati dilapah-lapah.
Kuasa yang ada pada mereka
membuatkan Petta menderita teramat sangat.
Lebih-lebih lagi tak bisa melupuskan dendam kesumat.
Selagi maruah masih belum terbela.
Mertabat belum terangkat.
Petta teramat sedih
Airmata bercucuran
Melihat keluarga disiksa dibunuh
Rakyat Bone Soppeng dalam penyiksaan penderitaan
yang tidak terhingga
apa lagi semuanya berlaku didepan mata.
Alhamdulillah...Petta berjaya
mengumpulkan tekad, kekuatan diri
memobillisasikan setiap tenaga
dengan tiga faktor sistem nilai
budaya nenek moyang kita ia itu Siri', Passe dan Ware
(Siri' - tujuan untuk meningkatkan harkat dan mertabat, harga diri.
Pesse - Rasa kemanusian dan kebersamaan, senasib dan saling membantu, melahirkan rasa
solidaritas yang sangat tinggi.
Ware - Memperbaiki nasib, bekerja sekuat tenaga).
Tiga faktor ini Petta gembelingkan
mencari masa yang sesuai untuk bertindak.......
We Tenri Angka Daeng Masennang
Kualalumpur Malaysia